***Kunjungi WEB kami***

ikhwansaputera.com Semua Bisa Dengan Belajar

Sepuluh Adab Pencari Pengetahuan (Bagian 2)

06.27.2017 · Posted in Do'a, Filsafat, Home
Kelua , 2 Syawal 1438 H
 Seorang pencari ilmu harus menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Dia harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain minimal terhadap keluarganya.
Ilmu mempunyai keutamaan yang tinggi dalam Islam. Banyak ayat Alquran dan sunah Rasul yang mengungkapkan hal tersebut. Bahkan, disampaikan bahwa orang-orang yang berilmu diangkat beberapa derajat oleh Allah Swt. jika dibandingkan orang-orang yang beriman tanpa ilmu.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ ١١

  1. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan ( Q.S Al Mujadilah [58]-11).

 

Salah satu pemikir besar umat muslim, Imam Al-Ghazali, dalam bukunya Ihya Ulumuddin menyampaikan adab menuntut ilmu bagi seorang pelajar. Ada tujuh poin penting tentang Adab Menuntut Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali yang diringkas dari pendapat ulama ahli tasawuf ini.

Pertama, mendahulukan kebersihan jiwa dari akhlak yang rendah.

Menurut Al-Ghazali, selama batin tidak bersih dari hal-hal keji, maka ia tidak menerima ilmu yang bermanfaat dalam agama. Selain itu, batin juga tak akan diterangi dengan cahaya ilmu.Ibnu Mas’ud berkata, “Bukanlah ilmu itu karena banyak meriwayatkan, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang dimasukkan ke dalam hati.”

Kedua, mengurangi kesenangan-kesenangan duniawi dan menjauh dari kampung halaman hingga hatinya terpusat untuk ilmu.

Allah SWT tidak menjadikan dua jantung bagi seseorang di dalam rongga badannya. Oleh karena itu dikatakan, “Ilmu itu tidak memberikan sebagiannya hingga engkau memberinya seluruh milikmu.”

Ketiga, tidak sombong dalam menuntut ilmu dan tidak membangkang kepada guru.

Al-Ghazali menyarankan orang yang menuntut ilmu agar memberi kebebasan kepada guru yang mengajarnya selama tidak memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Al-Ghazali juga menegaskan agar pelajar terus berkhidmat kepad guru. Menurutnya, ilmu enggan masuk kepada orang yang sombong seperti banjir yang tidak dapat mencapai tempat yang tinggi. Karena ilmu bukan untuk berpamer karena pada dasarnya kita semuanya adalah jahil jangn pernah berhenti dalam belajar bukankah ada peribahasa mengatakan “Tuntutlah ilmu dari buayan sampai liyang lahat” tidak ada kata berhenti dalam belajar.

Keempat, menghindar dari mendengarkan perselisihan-perselisihan di antara sesama manusia.

Menurut Al-Ghazali, hal tersebut dapat menimbulkan kebingungan saat menuntut ilmu.Orang yang bersifat tekun dalam menuntut ilmu pada tahap awalnya perlu menghidarkan diri dari mendengar perselisihan dan perbedaan pendapat di kalangan manusia sama ada yang melibatkan ilmu keduniaan atau ilmu akhirat. Secara rasionalnya, ia boleh mengelirukan pemikirannya terhadap disiplin ilmu yang baru dipelajarinya dan membantutkan usahanya untuk membuat penyelidikan yang mendalam. Namun begitu, bagi seseorang yang telah menguasai sesuatu bidang disiplin ilmu secara mahir dan mendalam tidak menjadi halangan untuk mengkaji perbedaan pendapat tentang sesuatu masalah. Ini kerana, perbedaan pendapat tentang sesuatu masalah merupakan salah satu daripada metodologi tempat dalam pencarian ilmu.

Kelima, tidak menolak suatu bidang ilmu yang terpuji, tetapi harus menekuninya hingga mengetahui maksudnya.

Jika umur membantunya, maka ia pun mesti menyempurnakannya.

Keenam, mengalihkan perhatian kepada ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat.

Imam Al-Ghazali berpendapat, ilmu yang dimaksudkan adalah bagian dari muamalah dan mukasyafah.

Dari segi bahasa, “muamalah” berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain, hubungan kepentingan. Kata-kata semacam ini adalah kata kerja aktif yang harus mempunyai dua buah pelaku, yang satu terhadap yang lain saling melakukan pekerjaan secara aktif, sehingga kedua pelaku tersebut saling menderita dari satu terhadap yang lainnya.

Pengertian Muamalah dari segi istilah dapat diartikan dengan arti yang luas dan dapat pula dengan arti yang sempit. Sedangkan dalam arti yang sempit adalah pengertian muamalah yaitu muamalah adalah semua transaksi atau perjanjian yang dilakukan oleh manusia dalam hal tukar menukar manfaat.

Dari berbagai pengertian muamalah tersebut, dipahami bahwa muamalah adalah segala peraturan yang mengatur hubungan antara sesama manusia, baik yang seagama maupun tidak seagama, antara manusia dengan kehidupannya, dan antara manusia dengan alam sekitarnya.

Ilmu mukasyafah tersebut ialah makrifatullah atau mengenal Allah. Al-Ghazali menegaskan bahwa ilmu yang paling mulia dan puncaknya adalah mengenai Allah. Ilmu Mukasyafah adalah jalan menuju akhirat yang harus memisahkan dari sifat-sifat yang keji dan yang tercela, yaitu tentang keselamatan hati atau jiwa. Sedangkan Ilmu mu’amalah adalah membahas tentang keselamatan badan. Ilmu muamalah disifatkan dhahir sedangkan ilmu mukasyafah disifatkan bathin. Yang semuanya itu berserikat, artinya saling terkait.

Ketujuh, tujuan belajar adalah menghiasi batin dengan sifat yang menyampaikannya kepada Allah Swt.

Selain itu, ia juga harus mengharapkan mendapatkan derajat tertinggi di antara malaikat muqarabin (yang dekat dengan Allah). Dengan tujuan ini, ia tidak mengharapkan kepemimpinan, harta, dan kedudukan.

Leave a Reply