***Kunjungi WEB kami***

ikhwansaputera.com Semua Bisa Dengan Belajar

Islam dan Yogyakarta

08.11.2017 · Posted in Filsafat, Home
Yogyakarata

Yogyakarata

Yogyakarta adalah core pergumulan Islam dengan budaya Jawa. Namun, seperti yang diakui oleh sejarawan Amerika Serikat Mark Woodward, orang tidak akan dapat melepaskan pengaruh Islam yang sudah mendalam di Kraton Yogyakarta.

Kraton ini berdiri pada tahun 1756, sebagai hasil Perjanjian Giyanti antara Pangeran Mangkubumi, Paku Buwono III, dan Belanda. Dalam Kraton Jogja: The History and Cultural Heritage, secara resmi dikatakan ideologi yang dianut oleh Kasultanan Yogyakarta adalah Islam-Jawa.

Hal itu terefleksi dalam berbagai sistem di Kraton Yogyakarta, termasuk gelar sultan, yakni Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senapati Ing Ngalaga, Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah. Gelar tersebut menyiratkan bahwa sultan adalah pemimpin politik pemerintahan, panglima perang, sekaligus pemimpin agama.

Keraton Yogyakarta sudah menanamkan tradisi syiar Islam secara lembut sejak awal berdiri sebagai Kerajaan Mataram Islam.
“Sejak Sultan Hamengku Buwono I, pendekatan Islam dilakukan dengan lembut ketika mendirikan Masjid Gede Kauman,” ujar anggota keluarga Keraton Yogyakarta, Gusti Bendoro Pangeran Hario Prabukusumo, dalam diskusi Edisi Khusus Tempo “Teladan Sultan Hamengku Buwono IX” di Hotel Sheraton, Yogyakarta, Selasa, 18 Agustus 2015.

Jejak Islam di Kraton Yogyakarta juga dapat ditelusuri lewat keberadaan kampung-kampung santri di pinggiran kota Yogya. Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Roudlatul Fatihah, Plered, Bantul KH M Fuad Riyadi mencatat, ada sejumlah desa yang menyandang status kampung santri, di antaranya Mlangi, Wonokromo, Dongkelan, Plosokuning, dan Kauman.

Dahulu pada awal penyerbaran Islam, di pintu masuk sisi selatan-utara masjid, Sultan HB I meletakkan dua buah gamelan Kiai dan Nyai Sekati, perangkat yang menjadi cikal bakal perayaan tradisi Sekaten. Gamelan dipilih karena menjadi instrumen “yang dekat” dengan keseharian penganut animisme kala itu.

“Warga yang saat itu belum memiliki agama, ketika memasuki Masjid Gede, merasa nyaman karena melihat gamelan. Namun mereka juga jadi melihat bangunan masjid,”

Setelah melihat bangunan masjid itu, warga mulai bertanya, ada kegiatan apa di dalamnya. Warga mulai bertanya bagaimana cara masuk Islam. Dan Sultan HB I meminta warga menirukan kalimat syahadat sebagai syarat pertama masuk Islam.

“Islam dikenalkan Keraton dengan cara lembut dan menghargai perbedaan, seperti Sunan Kalijaga mengenalkan Islam dengan mendalang”.

“Begitulah bebera hal yang saya bisa himpun disela kegiatan KSM dan AKSIOMA madrasah, sembari menambah catatan online saya, mohon maaf jika masih ada kekurangan dalam tulisan ini.”

Leave a Reply